Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 Desember 2010

Foto-Foto Pembakar Semangat

 Jika kamu adalah orang yang selalu tidak sabaran, lihatlah mereka...

Jika kamu berpikiran bahwa pekerjaanmu sulit, bagaimana dengan dia...?

Jika kamu berpikir gajimu rendah, bagaimana dengan dia...?


Jika kamu berpikir tidak memiliki bnyak teman, tanyakan dirimu sendiri seandainya dia memiliki teman yang tulus seperti anjing ini...

Kamu berpikiran bahwa belajar itu menyusahkan, bagaimana dengan dia...?

 Ketika kamu merasa hendak menyerah, ingatlah lelaki tua ini...

 Jika kamu selalu mera menderita, apakah tidak lebih menderita dari orang ini...?

Jika kamu keberatan dengan transportasi yang dimiliki, bagaimana dengan mereka...?

Jika kamu merasa hidupmu tidak wajar, bagaimana dengan dia...?

Ketika kecil kita dimanja dan disayang, manjakah mereka...?

Kita sering mengeluh tentang makanan disaat ia sedang membayangkan makan Happy Meal

Masihkah kita berfikir untuk membentak ibu kita?

Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat saat ini. Always 'be positive'...... No Matter What!!!!

Tolong Jaga Mata Saya Baik-Baik

Ada seorang wanita buta. Semua orang membenci dia, kecuali kekasihnya. Wanita itu selalu berkata, “Saya akan menikahimu saat saya bisa melihat.” Suatu hari, ada orang mendermakan mata kepada wanita itu. Akhirnya wanita itu dapat melihat. Dengan segera, dia pergi menemui kekasihnya. Tetapi, ketika dia melihat kekasihnya, dia merasa sungguh terkejut karena kekasihnya juga buta.

Kekasihnya bertanya, “Sudikah kamu menikah denganku sekarang?” Tanpa sebuah alasan, wanita itu menolak. Kekasihnyapun tersenyum dan berlalu pergi sambil berkata. “Tolong jaga mata saya baik-baik…”

Selasa, 28 Desember 2010

Perjuangan Siput Menyebrang Tanpa Jembatan

Saat masalah menerjang...

Selalu berpikir untuk mencari solusi

Mencoba adalah sesuatu yang hampir mustahil, tapi harus dilakukan

Semuanya menjadi mungkin ketika terus berusaha mencoba

Berusaha dengan resiko yang tinggi

Selalu berusaha dengan kesabaran

Dengan usaha keras, semuanya bisa dilakukan

KESIMPULAN
Hidup ini keras, jangan pernah berhenti berusaha. Jangan pernah menyerah jika gagal, dan lakukan terus sampai berhasil. Where there is a will, there is a way

Sabtu, 30 Oktober 2010

Perbedaan Suka, Sayang, dan Cinta

1. Saat kau MENYUKAI seseorang, kau ingin memilikinya untuk keegoisanmu sendiri.

2. Saat kau MENYAYANGI seseorang, kau ingin sekali membuatnya bahagia dan bukan untuk dirimu sendiri.

3. Saat kau MENCINTAI seseorang, kau akan melakukan apapun untuk kebahagiaannya walaupun kau harus mengorbankan jiwamu.

4. Saat kau menyukai seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku menciummu?"

5. Saat kau menyayangi seseorang dan berada disisinya maka kau akan bertanya,"Bolehkah aku memelukmu?"

6. Saat kau mencintai seseorang dan berada disisinya maka kau akan menggenggam erat tangannya...

7.SUKA adalah saat ia menangis, kau akan berkata "Sudahlah, jangan menangis."

8. SAYANG adalah saat ia menangis dan kau akan menangis bersamanya.

9.CINTA adalah saat ia menangis dan kau akan membiarkannya menangis dipundakmu sambil berkata, "Mari kita selesaikan masalah ini bersama-sama. "

10. SUKA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Ia sangat cantik dan menawan."

11. SAYANG adalah saat kau melihatnya kau akan melihatnya dari hatimu dan bukan matamu.

12.CINTA adalah saat kau melihatnya kau akan berkata,"Buatku dia adalah anugerah terindah yang pernah Tuhan berikan padaku.."

13. Pada saat orang yang kau SUKA menyakitimu, maka kau akan marah dan tak mau lagi bicara padanya.

14. Pada saat orang yang kau SAYANG menyakitimu, engkau akan menangis untuknya.

15. Pada saat orang yang kau CINTAI menyakitimu, kau akan berkata,"Tak apa dia hanya tak tau apa yang dia lakukan."

16. Pada saat kau suka padanya, kau akan MEMAKSANYA untuk menyukaimu.

17. Pada saat kau sayang padanya, kau akan MEMBIARKANNYA MEMILIH.

18. Pada saat kau cinta padanya, kau akan selalu MENANTINYA dengan setia dan tulus...

19. SUKA adalah kau akan menemaninya bila itu menguntungkan.

20. SAYANG adalah kau akan menemaninya di saat dia membutuhkan.

21. CINTA adalah kau akan menemaninya di saat bagaimana keadaanmu.

22. SUKA adalah hal yang menuntut.

23. SAYANG adalah hal memberi dan menerima.

24. CINTA adalah hal yang memberi dengan rela.

Kamis, 09 September 2010

Belajar dari bocah

Mendengar adzan dzuhur berkumandang, bocah berbaju lusuh itu segera berlari ke arah mesjid sambil menenteng roti isi daging di tangan kanan dan es cendol di tangan kirinya. Dia menari-nari di hadapan orang-orang yang masuk ke mesjid sambil sesekali menyeruput es cendol dan mengunyah roti dagingnya. Itu adalah hal yang biasa jika yang dilakukan bocah itu tidak saat bulan Ramadhan. Setiap kali ada orang yang melewatinya, ia menyengir sinis seraya memamerkan roti dagingnya yang berwarna coklat menyala dan butiran es yang menetes dari bungkus plastik cendolnya. Setelah salat dzuhur berjamaah selesai, ia menghilang dari pelataran mesjid.

Fenomena munculnya bocah aneh itu baru terjadi saat Ramadhan kali ini dan langsung menjadi buah bibir masyarakat sekitar. Pasalnya, bocah itu bukanlah warga asli daerah situ dan tidak ada yang mengenalnya. Tidak sedikit orang yang merasa kesal melihat tingkah bocah itu. Namun sampai sekarang tidak ada yang kesampaian hati untuk menegurnya jika melihat kaki sang bocah yang penuh lumpur tanpa alas kaki dan bajunya yang lusuh tidak pernah diganti. Sampai suatu ketika, Fulan berniat menegur bocah itu karena tidak tahan melihat sikap bocah aneh itu.

Keesokan harinya, seperti biasa Fulan berangkat ke mesjid saat adzan dzuhur berkumandang. Di pelataran mesjid, bocah aneh itu telah menari-nari sambil membuka bungkus sekerat roti daging dan langsung menggigitnya. Dia juga menggoda jamaah mesjid dengan es cendol yang sepertinya sangat segar jika mengalir melalui kerongkongan pada siang itu. Fulan segera menghampiri bocah itu dan langsung menegurnya.

Bocah itu bertanya, “Mengapa tidak boleh dimakan? Ini kan kepunyaan saya”, mata si bocah menatap tajam ke arah Fulan sambil terus menggigit roti dagingnya. Fulan mencoba menerangkan dengan lembut, “Maaf ya, bukannya tidak boleh tapi kamu melakukannya di bulan puasa. Bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya menahan lapar dan haus, malah menggoda orang dengan tingkahmu ini...”, sebenarnya Fulan ingin mengomel lebih lama, namun kata-katanya disanggah bocah itu. “Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini kepada kami! Selama 11 bulan kalian selalu saja menggoda kami dengan segala kemewahan dunia yang kalian miliki. Ketika kami berjuang keras hidup di bawah garis kemiskinan, dengan tenangnya kalian memainkan ponsel keluaran terbaru di hadapan kami. Saat kami mengais sesuap nasi dari tempat sampah, kalian memesan banyak makanan mahal dan tidak jarang kalian menyumpahi makanan tersebut hanya karena kebanyakan garam atau sedang tidak berselera makan.

Dan ketahuilah Tuan, justru kalianlah yang menyakiti kami di bulan Ramadhan ini! Saat bedug maghrib tiba, kami kembali tersiksa menatap kerakusan kalian. Bulan puasa hanyalah pergeseran waktu makan bagi kalian. Saat Idul Fitri tiba, kalian kembali memamerkan beragam kemewahan dengan baju baru yang mahal, sedangkan hanya baju ini satu-satunya yang kami gunakan untuk semua aktivitas. Kalian membeli sepatu baru yang mahal walau sepatu lama kalian masih dapat digunakan, sedangkan kaki-kaki kami tersiksa tanpa alas kaki. Rumah kalian dipenuhi makanan yang enak serta kue-kue yang mewah, tapi tidak pernah ada sedikitpun niat kalian untuk mengundang kami menikmati santapan di rumah kalian. 12 bulan kalian menyakiti kami, maka yang aku lakukan ini sebenarnya tidak ada apa-apanya bukan?”

Setelah itu si bocah pergi seiring selesainya salat dzuhur. Fulan masih saja terdiam saat memahami pesan yang hendak disampaikan bocah itu. Ia melafadzkan istigfar sebanyak-banyaknya. Kakinya gontai menuntun tubuhnya untuk mengambil air wudhu dan segera menunaikan salat dzuhur. Setelah kejadian itu, ia tidak lagi melihat bocah itu menari-nari di pelataran mesjid tiap adzan dzuhur. Lambat laun, cerita tentang bocah aneh itu pun menghilang dari kampung si Fulan. Namun Fulan mendapat pelajaran luar biasa darinya. Dia selalu menceritakan pengalamannya bersama bocah “misterius” itu kepada orang lain agar setiap orang bisa mengambil hikmah bulan suci Ramadhan yang sesungguhnya. Semoga kita dapat menjadikan 11 bulan lainnya seperti bulan Ramadhan, menahan nafsu duniawi, saling berbagi kepada sesama, empati atas penderitaan saudara-saudara kita. Wallahualam bis shawab

Rabu, 10 Februari 2010

Lucu ya . .


Lucu ya, uang Rp 20.000-an kelihatan begitu besar bila dibawa ke kotak amal masjid, tapi begitu kecil bila kita bawa ke supermarket.


Lucu ya, 45 menit terasa terlalu lama untuk berdzikir, tapi betapa pendeknya waktu itu untuk bermain game


Lucu ya, susah merangkai kata untuk dipanjatkan saat berdoa atau sholat, tapi betapa mudahnya mencari bahan obrolan bila ketemu teman.


Lucu ya, betapa serunya perpanjangan waktu di pertandingan bola favorit kita, tapi betapa bosannya bila imam sholat Tarawih bulan Ramadhan kelamaan bacaannya.


Lucu ya, susah banget baca Al-Quran 1 Juz saja, tapi novel "best seller" 100 halaman pun habis dilalap.


Lucu ya, orang-orang pada berebut paling depan untuk nonton bola atau konser, dan berebut cari shaf paling belakang bila Jum'atan agar bisa cepat keluar.

Lucu ya, susahnya orang mengajak berpartisipasi untuk dakwah, tapi mudahnya orang berpartisipasi menyebar gosip.

Lucu ya, kita begitu percaya pada yang dikatakan koran, tapi sering kita mempertanyakan apa yang dikatakan Qur'an.

Lucu ya, semua orang pinginnya masuk surga tanpa harus beriman, berpikir, berbicara atau melakukan apa-apa.

Lucu ya, betapa lamanya 2 jam berada di Mesjid, tapi betapa cepatnya 2 jam berlalu saat menikmati pemutaran film di bioskop.

Lucu ya, kita bisa ngirim ribuan "jokes" lewat "E-mail", tapi bila ngirim yang berkaitan dengan ibadah sering mesti berpikir dua kali.

Ikhlas dan tauhid adalah pohon yang ditanam di taman hati, Amal perbuatan adalah cabang-cabangnya, sedangkan buah-buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan kenikmatan abadi di alam akhirat. (Ibnul-Qayyim)

Jumat, 22 Januari 2010

Secangkir madu

Dalam memperingati hari kemerdekaan negaranya, seorang Raja di negara timur tengah bermaksud mengadakan acara bakti sosial. Ia memerintahkan rakyatnya untuk membawa satu cangkir madu dan memasukkannya pada malam hari ke dalam tong di alun-alun. Nantinya, madu yang terkumpul akan dijual dan hasil penjualan akan disumbangkan untuk rakyat yang membutuhkan.

Setelah mendengar titah Raja tersebut, rakyat segera berhamburan ke rumah masing-masing. Di antara mereka, ada seseorang yang berpikiran egois. Dia tidak akan membawa madu, melainkan air yang hendak ia bawa. Menurutnya, alun-alun sangat gelap pada malam hari, sehingga tidak ada yang dapat melihat apa yang dibawanya. Lagipula, secangkir air tidak akan mempengaruhi satu tong besar madu.

Malam pun tiba. Semua orang berduyun-duyun datang ke alun-alun dan menumpahkan madu yang mereka bawa ke dalam tong yang besar. Begitu pun dengan orang yang egois itu, dia menumpahkan air yang ia bawa.

Keesokkan harinya, Raja membuka tong tempat madu tersebut. Ia terkejut karena isi tong itu adalah air!!! Ternyata seluruh warganya memiliki sikap yang egois.

Dalm kehidupan kita sehari-hari, kerap kali kita melanggar hal-hal yang kita nilai sepele, seperti membuang sampah di jalanan. Menurut kita, sampah kecil yang dibuang tidak akan mempengaruhi kebersihan kota. Namun bagaimana jadinya jika seluruh orang berpikir demikian? .

Kamis, 31 Desember 2009

Rumah yang sempit

Ada sebuah rumah kecil yang dihuni sepasang suami istri dan 4 orang anaknya. Setiap hari, si bapak selalu dihujani keluhan-keluhan dari istri dan anak-anaknya yang merasa tidak nyaman dengan rumah sempit tersebut. Karen tidak tahan lagi, dia mendatangi Abu Nawas untuk berkonsultasi mengenai masalahnya.

Setelah mendengar cerita laki-laki tersebut, Abu Nawas memberi nasehat, "Belilah 4 ekor ayam jantan dewasa lalu peliharalah di dalam rumahmu."

Pemilik rumah tersebut melakukan apa yang diperintahkan Abu Nawas tanpa banyak bertanya. Satu bulan kemudian, ia mengunjungi Abu Nawas dan berkata, "Wahai Abu, aku telah melakukan apa yang Engkau perintahkan tapi keadaan rumahku malah bertambah sempit karena kami harus berbagi tempat dengan ayam-ayam itu."

Setelah mendengar penuturan orang tersebut, Abu Nawas berkata kepadanya, "Kalau begitu, belilah sepasang kambing lalu peliharalah mereka di dalam rumahmu."

Lagi-lagi pemilik rumah tersebut mengangguk dan menuruti apa yang diperintahkan Abu Nawas. Ia membeli dua ekor kambing dan menyimpannya di dalam rumahnya. Satu bulan kemudian, ia kembali mendatangi Abu Nawas dan berkata, "Tuan Abu, keadaan rumah kami semakin sesak saja. Kini kambing-kambing itu telah menghambat keleluasaan kami untuk beraktivitas di dalam rumah."

Lalu Abu Nawas berkata, "Pergilah ke pasar dan belilah seekor unta dewasa, lalu pelihara ia di dalam rumahmu."

Untuk yang kesekian kalinya, si pemilik rumah tidak menolak apa yang diperintahkan Abu Nawas. Ia pergi ke pasar dan membeli seekor unta betina dewasa dan memasukkannya ke dalam rumah. 1 bulan kemudian, ia kembali mendatangi Abu Nawas dan berkata, "Wahai Abu Nawas, rumah kami kini seperti neraka. Orang dan binatang berkeliaran dimana-mana. Aku merasa lebih baik berada di luar daripada harus berjejalan dalam rumah."

Abu Nawas tersenyum. Ia kemudian berkata, "Sekarang pulanglah ke rumahmu dan jual semua ternak yang Kamu miliki."

Setelah mendengar perintah Abu Nawas, si pemilik rumah tersebut segera pulang dan membawa ternaknya ke pasar untuk di jual. Tiga bulan kemudian, Abu Nawas bertamu ke rumahnya. Ia menyambut Abu Nawas dengan senyum sumringah. Terjadilah percakapan di antara mereka,

"Bagaimana kondisi Tuan saat ini?", tanya Abu Nawas.

Si pemilik rumah menjawab, "Alhamdulillah, kehidupan kami kini sangat nyaman karena hewan-hewan itu sudah tidak ada di rumah kami."

Kemudian Abu Nawas memberikan sebuah petuah kepadanya, "Ketahuilah Saudaraku, kepuasan hati tidak akan pernah ada jika kita selalu melihat hal-hal yang di atas. Sesungguhnya kepuasan hati terletak dalam benak orang-orang yang bersyukur atas nikmat yang Allah berikan."

Rabu, 30 Desember 2009

Pelita Hati

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tengah bekerja di ruangan dinasnya. Ruangan tersebut hanya disinari sebuah lampu yang tidak terlalu terang. Kemudian, datanglah anaknya mengetuk pintu seraya berkata,
"Ayah, bolehkah Saya masuk? Ada yang ingin Saya bicarakan dengan Ayah"

Sebelum mempersilahkan anaknya masuk, Khalifah Umar bertanya kepada anaknya,
"Hal apa yang ingin Kau bicarakan nak? Apakah tentang urusan pribadi atau urusan rakyat?"

Sang anak menjawab,
"Yang ingin saya bicarakan adalah hal pribadi"

"Kalau begitu, tunggu sebentar", balas Khalifah Umar. Beliau segera memadamkan lampu ruangan tempat ia bekerja lalu mempersilahkan anaknya masuk. Melihat ruangan yang gelap gulita, si anak bertanya,
"Ayah, mengapa Engkau mematikan lampu ruangan ini setelah mengetahui bahwa yang ingin Saya bicarakan adalah urusan pribadi?"

Khalifah Umar tersenyum kemudian menjawab,
"Wahai anakku, lampu yang ada di ruanganku ini dibayar dengan menggunakan uang rakyat. Maka aku hanya akan menggunakannya untuk mengurus kepentingan rakyat dan negara. Yang ingin kau bicarakan adalah hal yang pribadi, sehingga aku tidak berhak menggunakan lampu yang dibayar oleh rakyat ini untukmu. Sekarang kita berdiskusi dalam gelap saja"

"Pelita kehidupan lahir dari hati yang murni dan akal yang jernih. Jika seluruh pemimpin di Indonesia seperti Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Indonesia gak bakal berada di "TOP TEN" negara terkorup sedunia.