Tampilkan postingan dengan label Cerita hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Maret 2010

Menulis di Atas Pasir

Kisah tentang 2 orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang tanpa dapat menahan diri menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :
"hari ini, sahabat terbaik ku menampar pipiku"

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Namun, ternyata oasis tersebut cukup dalam sehingga orang yang kena tampar nyaris tenggelam, dan diselamatkanlah dia oleh sahabat yang menamparnya tadi. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu :
"hari ini, sahabat terbaik ku menyelamatkan nyawaku"

Si penolong yang pernah menampar sahabatnya tersebut bertanya,
"kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang setelah kuselamatkan kamu menulis di batu?"

Temannya sambil tersenyum menjawab:
"ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya diatas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila antara sahabat terjadi sesuatu kebajikan sekecil apa pun, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tetap terkenang tidak hilang tertiup angin waktu"

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Selasa, 16 Februari 2010

Tiga orang buta

Suatu ketika, tiga orang buta mengunjungi sebuah kebun binatang. Oleh seorang pawang gajah, mereka bertiga dihadapkan dengan seekor gajah dewasa. Ketiga orang buta itu memegang beberapa bagian yang berbeda dari gajah tersebut. Sang pawang meminta mereka mendeskripsikan binatang yang tengah mereka pegang.

Orang buta pertama berkata, "Binatang ini tubuhnya kecil seperti cacing," ketika itu dia menyentuh ekornya.

Orang buta kedua berkata, "Binatang ini sangat tipis dan lebar seperti daun," kala itu ia sedang memegang telinga gajahnya.

Orang buta ketika berkata, "Binatang ini keras dan tidak terlalu besar seperti pohon," saat itu ia sedang memegang kaki sang gajah.

Begitulah, jika kita membutakan hati kita, selamanya kita tak akan mengetahui kebenaran.


Sabtu, 06 Februari 2010

Berani Mencoba

Alkisah, seorang pembuat jam berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.

"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat. "Mana sanggup aku melakukannya."

"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"
"Delapan puluh ribu empat ratus kali? Dengan jarum ayng ramping-ramping seperti ini?," jawab jam penuh keraguan.

"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam itu dengan penuh kesabarn kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaahh, kalau begitu aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu bahkan yang semula kita anggap impossible untuk dilakukan sekalipun. Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Tujuh Keajaiban Dunia


Sekelompok siswa sedang mempelajari "Tujuh Keajaiban Dunia". pada awal dari pelajaran, mereka diminta untuk membuat daftar apa yang mereka pikir merupakan "Tujuh Keajaiban Dunia" saat ini. Walaupun ada beberapa ketidaksesuaian, sebagian besar berisi :
1. Piramida
2. Taj Mahal
3. Tembok Besar Cina
4. Menara Pisa
5. Menara Eiffel
6. Candi Borobudur
7. Colosseum

Ketika mengumpulkan apa yang ditulis muridnya, sang guru memperhatikan seorang gadis yang pendiam yang belum mengumpulkan kertas miliknya. Sang guru bertanya apakah dia mempunyai kesulitan dengan daftarnya.

Gadis pendiam itu menjawab, "Ya, sedikit. Saya tidak bisa memilih karena sangat banyaknya."
Si guru pun berkata, "Baiklah, katakan apda kami apa yang kamu miliki dan mungkin kami bisa membantu memilihnya."

Gadis itu ragu sejenak, kemudian berkata, "Saya pikir, 'Tujuh Keajaiban Dunia' adalah,
1. Bisa melihat,
2. Bisa mendengar,
3. Bisa menyentuh,
4. Bisa menyayangi,

Dia ragu lagi sebentar, dan kemudian melanjutkan,
5. Bisa merasakan,
6. Bisa tertawa, dan,
7. Bisa mencintai.

Ruang kelas tersebut sunyi seketika. Alangkah mudahnya kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya "keajaiban". Sementara kita lihat lagi semua yang telah Tuhan karuniakan untuk kita, kita menyebutnya sebagai "biasa". Semoga Anda hari ini diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan Anda.

Kamis, 04 Februari 2010

Kekuatan Api Cinta

Alkisah suatu ketika, Kapak, Gergaji, Palu dan Nyala Api sedang mengadakan perjalanan bersama-sama. Di suatu tempat, perjalanan mereka terhenti karena terdapat sepotong baja besi yang tergeletak menghalangi jalan mereka. Mereke berusaha menyingkirkan baja tersebut dengan kekuatan yang mereka memiliki masing-masing.

"Itu bisa aku singkirkan," kata Kapak. Pukulan-pukulannya keras sekali menghantam baja yang kuat dan keras juga. Tapi tiap pukulan hanya membuat kapak itu lebih tumpul sedangkan baja itu tidak terlalu banyak berubah.

"Sini, biar aku yang urus," kata Gergaji. Dengan gigi-gigi yang tajam, tanpa perasaan ia pun mulai menggergaji baja tersebut. Ia kaget dan kecewa karena semua giginya jadi tumpul dan rontok.

"Apa kubilang," kata Palu. "Kan aku sudah omong kalian tak akan bisa. Sinia aku tunjukkan caranya." Tapi baru sekali ia memukul, kepalanya sudah terpental sendiri dan baja tetap tak berubah.

"Boleh aku coba?" tanya Nyala Api. Dan ia pun melingkarkan diri, dengan lembut menyelimuti, memeluk dan mendekap baja erat-erat. Baja yang keras itu pun meleleh cair.

. . . . . .

Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan amukan kemarahan demi harga diri. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan api cinta kasih yang hangat. Arif dan bijak ada dalam sebuah kelembutan dan kehangatan, seperti api mencairkan hati yang beku.

Rabu, 03 Februari 2010

Dilema terhadap keledai

Suatu ketika seorang laki-laki beserta anaknya membawa seekor keledai ke pasar untuk dijual. Di tengah perjalanan, beberopa orang melihat mereka dan mencibir, "Betapa dungunya orang-orang itu. Mengapa mereka tidak naik saja ke atas keledai itu sehingga tidak perlu capek-capek berjalan kaki.

Laki-laki itu mendengar perkataan tersebut. Ia lalu meminta ankanya naik ke atas punggung keledai. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya kembali. Seorang perempuan tua yang melihat mereka berkata, "Sungguh anak tak tahu diri! Ia tenang-tenang di atas keledai sementara ayahnya yang tua dibiarakan berjalan."

Kali ini anak itu turun dari punggung keledai dan ayahnya yang menunggangi keledai. Mereka melanjutkan perjalanan kembali. Tidak lama kemudian, mereka berpapasan dengan gadis muda. Gadis muda itu berkata, "Dasar orang yang tidak sayang anak. Mengapa tidak kau ajak anakmu naik ke atas punggung keledai itu?"

Mereka menuruti nasehat gadis muda itu. Kali ini ayah dan anak itu berada pada punggung keledai. Sekelompok orang melihat mereka dan berkata sinis, "Keledai yang malang. Ia harus menanggung beratnya beban dua orang. Manusia memang terkadang sangat kejam."

Sampai disini, ayah dan anka itu muak. Akhirnya mereka berdua memanggul keledai itu ke pasar. Sesaat kemudian, orang-orang tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata "Dunia sudah terbalik rupanya. Kini bukan keledai yang ditunggangi manusia, melainkan manusia yang memanggul keledai!"

Anda tidak akan pernah bisa membuat semua orang di dunia ini puas karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda.
Be Yourself is the best choice

Kamis, 07 Januari 2010

Kucing Sir Henry Wyat

Sir Henry Wyat, seorang bangsawan di masa pemerintahan Raja Richard III (1452-1485) dari Inggris, dijebloskan ke Tower of London, dengan tuduhan terlibat kejahatan politik dan dijatuhi hukuman mati dengan jalan dibiarkan mati kelaparan.

Kucing milik Sir Henry Wyat, mengikuti tuannya ke Tower of London. Setiap hari kucing itu membawa seekor merpati bagi tuannya lewat cerobong. Sir Henry Wyat memakan merpati yang dibawa kucingnya setiap hari. Dengan jalan inilah Sir Henry Wyat dapat tetap bertahan hidup hingga berbulan-bulan.

Lambat laun, keajaiban ini sampai ke telinga raja melalui salah seorang pegawainya. Ia kemudian melepaskan Sir henry Wyat dari tempat tahanannya.

Sabtu, 02 Januari 2010

Agar kau mengerti sakitnya dipukul

Di sebuah negeri, hiduplah sepasang guru dan murid yang telah lama hidup bersama. Sang guru menyadari bahwa telah tiba waktu bagi muridnya untuk hidup sendiri, Ia membicarakan hal ini kepada muridnya dan muridnya pun menyetujui maksud dari sang guru.

Sebelum melepas kepergian muridnya, tanpa sebab apa-apa sang guru memukul muka muridnya dengan keras hingga terjerembab ke tanah,. Lalu dia pergi meninggalkan muridnya seorang diri. Si murid heran dengan sikap gurunya. Ia merasa sakit hati dan hendak membalas perlakuan gurunya suatu saat nanti.

Hari terus berganti. Sepuluh tahun kemudian sang murid telah menjadi seorang penguasa di negerinya. Ia kemudian berencana membalas dendam kepada gurunya. Dengan kewenangan yang ia memiliki, mudah saja baginya untuk menghadirkan sang guru dihadapannya.

Dia berkata, "Wahai Guruku, dulu Kau memukul wajahku tanpa sebab hingga aku terjerembab ke tanah. Kini aku akan membalas perbuatanmu dulu."

Kemudian, sang guru balas berkata, "Ketahuilah muridku, Aku memukulmu agar Engkau mengerti sakitnya orang yang dipukul, sehingga Kau akan berhati-hati dalam bersikap kepada orang lain jika Kau telah berkuasa seperti saat ini."

Sang murid menangis mendengar kata-kata gurunya. Ia lalu meminta maaf kepada gurunya dan memberikan hadiah yang banyak kepada beliau.

Kamis, 31 Desember 2009

Mencuri Asap

Fulan adalah seorang tukang kayu keliling di sebuh negeri. Kehidupannya yang serba kekurangan tidak membuatnya berkeluh kesah. Ia selalu bersemangat menjalani pekerjaannya dan mensyukuri apa yang bisa ia dapatkan setiap harinya.

Suatu hari, ketika Fulan sedang menjual kayunya di desa sebelah, ia merasa sangat lapar karena belum makan sejak pagi. Ia mengunjungi sebuah warung sate kambing di desa tersebut, namun uangnya hanya cukup untuk membeli seporsi nasi tanpa lauk. Akhirnya ia hanya membeli nasi dan memakannya di sebelah warung tersebut.

Sambil menyuap nasi, sesekali Fulan menghirup aroma sate kambing yang sedang dibakar. Sang pemilik warung yang mengetahui hal tersebut langsung menghardiknya. Fulan dianggap telah mencuri aroma sate kambing yang sedang dibakar dan harus membayar sekeping uang emas untuk asap yang telah ia hirup.

Tentu saja Fulan menolak membayar karena yang dituntut si pemilik warung adalah hal yang tidak masuk akal. Si pemilik warung geram dan mengadukan kejadian tersebut kepada hakim setempat. Dalam persidangan, hakim bertanya kepada pemilik warung, "Apa yang hendak Engkau adukan?"

Si pemilik warung berkata, "Fulan telah mencuri aroma sate kambing yang sedang aku bakar sehingga aku rugi karenanya. Aku menuntut ia untuk membayar sekeping uang emas atas asap yang ia hirup."

Sang Hakim mengangguk lalu mengeluarkan sekeping uang emas dan melemparkannya ke hadapan si pemilik warung sehingga uang itu berdenting. Ia lalu berkata, "Wahai tuan, apakah Engkau mendengar suara dentingan uang emas yang aku lemparkan kedekatmu? Itulah bayaran yang pantas untuk asap yang telah Fulan ambil darimu."

Rabu, 30 Desember 2009

Uang 100 ribu

Sebelum memulai ceramah dalam sebuah acara motivation training di salah satu perusahaan besar, seorang trainer mengangkat uang Rp.100.000 dan berteriak, "Siapa di antara Anda yang mau uang ini jika diberikan secara cuma-cuma?"

Hampir seluruh peserta mengangkat tangannya. Lalu si trainer meremas dan menginjak-injak uang tersebut. Kemudian dia mengangkat kembali uang tersebut dan berteriak, "Uang ini sekarang sudah lusuh dan kotor, siapa di antara Anda yang masih menginginkan uang ini jika diberikan secara cuma-cuma?"

Para hadirin pun mengangkat tangannya, jumlahnya tidak berkurang dari yang pertama tadi. Kemudian sang trainer berkata, "Begitulah perumpamaan orang-orang yang berharga. Ia akan tetap bernilai walau selalu ditekan, dihina, dijatuhkan, dibanting, diinjak berulang kali. Lingkungan tidak akan mempengaruhi orang-orang yang berharga, tapi justru orang tersebut yang akan mempengaruhi kehidupan. Jadilah pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat, maka kamu akan menjadi manusia berharga"

Sabtu, 26 Desember 2009

Tes Masuk Perusahaan Besar

Ada sebuah perusahaan besar yang sedang mencari karyawan. Dalam tes tertulisnya, mereka hanya memberikan satu kasus untuk dijawab :

"Anda sedang mengendarai motor di tengah malam gelap gulita dan hujan lebat di sebuah daerah yang  penduduknya sedang diungsikan semuanya karena bencana banjir. Pemerintah setempat hanya bisa memberikan bantuan 1 bis yang saat ini juga sedang mengangkut orang-orang ke kota terdekat.

Saat itu juga Anda melewati sebuah perhentian bis satu-satunya di daerah itu. Di perhentian bis itu Anda melihat 3 orang yang merupakan orang terakhir di daerah itu yang sedang menunggu kedatangan bis :

- Seorang nenek tua yang sekarat
- Seorang dokter yang pernah menyelamatkan hidup Anda sebelumnya.
- Seseorang yang selama ini menjadi idaman hati Anda dan akhirnya Anda temukan


Anda hanya bisa mengajak satu orang untuk membonceng Anda, siapakah yang akan Anda ajak? Dan jelaskan jawaban Anda mengapa Anda melakukan itu."

Sebelum Anda menjawab, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan :
Seharusnya Anda menolong nenek tua itu dulu karena dia sudah sekarat. Jika tidak segera ditolong akan meninggal.  Namun, kalo dipikir-pikir, orang yang sudah tua memang sudah mendekati ajalnya. Sedangkan yang lainnya masih sangat muda dan harapan hidup kedepannya masih panjang.

Dokter itu pernah menyelamatkan hidup Anda. Inilah saat yang tepat untuk membalas budi kepadanya. Tapi kalo dipikir, kalo sekedar membalas budi bisa lain waktu khan. Namun,kita tidak akan pernah tau kapan  kita mendapatkan kesempatan itu lagi.
Mendapatkan idaman hati adalah hal yang sangat langka. Jika kali ini Anda lewatkan, mungkin Anda tidak akan pernah ketemu dia lagi. Dan impian Anda akan kandas selamanya.

Jadi yang mana yang Anda pilih ?

Untuk direnungkan :
Dari 2000an orang pelamar hanya 1 orang yang diterima bekerja di perusahaan tersebut. Orang tersebut tidak menjelaskan jawabannya, hanya menulis dengan singkat : "Saya akan memberikan kunci motor saya kepada sang dokter dan meminta dia untuk membawa nenek tua yang sedang sekarat tersebut untuk ditolong segera. Sedangkan saya sendiri akan tetap tinggal disana dengan sang idaman hati saya untuk menunggu bis kembali menolong kami."

Ya, jawaban di atas adalah jawaban yang terbaik bukan? Tapi kenapa sebagian besar hal tersebut tidak kita pikirkan sebelumnya? Apakah karena kita terbiasa dengan tidak mau untuk melepas apa yang sudah kita dapatkan ditangan dengan susah payah. Dan bahkan berusaha meraih lagi sebanyak-banyaknya?

Terkadang...dengan rela untuk melepaskan sesuatu yang kita miliki, mengakui segala keterbatasan yang kita miliki dan melepaskan semua keinginan kita untuk sesuatu yang lebih mulia, kita akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar ....

Tiga Tukang Batu

Di sebuah negeri antah berantah, tersebutlah 3 orang tukang batu yang bekerja untuk membangun sebuah sekolah. Setiap hari mereka mengangkut batu-batu besar dari gunung ke tempat dimana sekolah tersebut akan dibangun.

Suatu ketika mandor yang bertanggung jawab terhadap pembangunan sekolah tersebut bertanya kepada salah satu di antara tiga tukang batu tadi.
"Apa yang sebenarnya sedang Engkau lakukan?"

Lalu tukang batu yang pertama menjawab,
"Seperti yang Bapak lihat, Aku sedang mengangkut batu-batu ini dari satu tempat ke tempat yang lain."

Si mandor menghampiri tukang batu yang kedua dan menanyakan hal yang sama. Tukang batu yang kedua itu menjawab,
"Aku sedang mencari nafkah untuk istri dan anak-anakku, maka Aku bekerja mengangkut batu-batu ini dari satu tempat ke tempat yang lain."

Setelah mendapat jawaban dari tukang batu yang kedua, si mandor beralih ke tukang batu yang ketiga dan mengajukan pertanyaan yang sama pula. Kemudian tukang batu yang ketiga tersenyum lalu menjawab,
"Aku sedang membangun bangsaku. Dengan batu-batu yang sedang Aku bawa, akan berdiri sebuah sekolah sehingga anak-anakku dapat menuntut ilmu di sana dan kelak akan menjadi pemimpin yang membawa kemakmuran bagi bangsa ini."

"Pandanglah dunia dari sisi lain. Gali segala hikmah dalam luasnya jalanan kehidupan dan pelajari sisi positif yang timbul darinya."