Kamis, 07 Januari 2010

Meriam Kayu

Dalam sebuah pertempuran, antara China dan Jepang, kubu China bernasib tidak beruntung. Benteng mereka di dekat kota Shanghai akan dikepung pasukan Jepang dari arah laut. Saat itu China sedang mengalami krisis persenjataan.

Seketika itu juga, sang komandan menyuruh anak buahnya untuk menebang pohon sebanyak-banyaknya dan ujung pohon tersebut diukir menyerupai mulut meriam. Lalu pohon tersebut dicat dengan warna hitam sehingga persis meriam beneran.

‘Ketika tentara Jepang tiba di bibir pantai, mereka melihat ‘Meriam Palsu’ yang banyak jumlahnya telah menanti mereka di atas benteng China. Akhirnya pasukan Jepang menarik kembali pasukannya dan tidak jadi menyerang.

Pohon ditebang untuk "The New York Times"

Di Amerika Serikat, untuk mencetak satu edisi sunday edition koran "The New York Times”, diperlukan kertas yang berasal dari kira-kira 63.000 batang pohon. Satu edisi The New York Times terdiri dari puluhan halaman dengan rata-rata satu edisi lengkap mencapai berat satu kilogram. Selain itu, koran The New York Times, juga termasuk surat kabar terbesar di Amerika Serikat dengas tiras 1,1 juta exemplar tiap satu kali terbit.

Sabtu, 02 Januari 2010

Agar kau mengerti sakitnya dipukul

Di sebuah negeri, hiduplah sepasang guru dan murid yang telah lama hidup bersama. Sang guru menyadari bahwa telah tiba waktu bagi muridnya untuk hidup sendiri, Ia membicarakan hal ini kepada muridnya dan muridnya pun menyetujui maksud dari sang guru.

Sebelum melepas kepergian muridnya, tanpa sebab apa-apa sang guru memukul muka muridnya dengan keras hingga terjerembab ke tanah,. Lalu dia pergi meninggalkan muridnya seorang diri. Si murid heran dengan sikap gurunya. Ia merasa sakit hati dan hendak membalas perlakuan gurunya suatu saat nanti.

Hari terus berganti. Sepuluh tahun kemudian sang murid telah menjadi seorang penguasa di negerinya. Ia kemudian berencana membalas dendam kepada gurunya. Dengan kewenangan yang ia memiliki, mudah saja baginya untuk menghadirkan sang guru dihadapannya.

Dia berkata, "Wahai Guruku, dulu Kau memukul wajahku tanpa sebab hingga aku terjerembab ke tanah. Kini aku akan membalas perbuatanmu dulu."

Kemudian, sang guru balas berkata, "Ketahuilah muridku, Aku memukulmu agar Engkau mengerti sakitnya orang yang dipukul, sehingga Kau akan berhati-hati dalam bersikap kepada orang lain jika Kau telah berkuasa seperti saat ini."

Sang murid menangis mendengar kata-kata gurunya. Ia lalu meminta maaf kepada gurunya dan memberikan hadiah yang banyak kepada beliau.